Peringatan KAA ke-71, H. Syahrir: Dasasila Bandung Adalah Perisai Kedaulatan di Tengah Badai Geopolitik Dunia

Dasasila Bandung bukan sekadar catatan sejarah, melainkan solusi konkret dalam menghadapi eskalasi geopolitik global saat ini.

BANDUNGASIA.com : Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Syahrir, SE, M. I.Pol, menegaskan bahwa peringatan Konferensi Asia-Afrika (KAA) ke-71 tahun 2026 harus menjadi momentum memperkuat pertahanan dan kedaulatan bangsa. Menurutnya, nilai-nilai Dasasila Bandung bukan sekadar catatan sejarah, melainkan solusi konkret dalam menghadapi eskalasi geopolitik global saat ini.

Dalam keterangannya memperingati Hari KAA yang jatuh pada Sabtu (18/4/2026), Syahrir menyoroti situasi dunia yang kini diwarnai rivalitas kekuatan besar dan konflik teritorial, yang dinilainya menyerupai suasana Perang Dingin tahun 1955.

“Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Namun, Indonesia memiliki pijakan kuat melalui Dasasila Bandung. Ini adalah perisai geopolitik kita,” ujar Syahrir di Bandung, Jumat (17/4/2026).

Menolak Polarisasi Kekuatan Besar

Politisi yang mendalami Ilmu Politik ini menjelaskan bahwa poin kelima dan keenam Dasasila Bandung secara tegas mengatur hak bangsa untuk mempertahankan diri dan menolak penggunaan pertahanan kolektif demi kepentingan negara-negara besar.

“Kekuatan pertahanan Indonesia bukan dibangun untuk agresi, melainkan wujud kedaulatan dan solidaritas dalam menjaga perdamaian dunia. Inilah esensi identitas politik Global South yang kita suarakan sejak 1955,” tegasnya.

Politisi Gerindra ini menambahkan, kemandirian bangsa merupakan “harga mati” yang harus dimulai dari ketahanan domestik yang solid, baik dari aspek ekonomi, budaya, maupun militer.

“Hal ini akan meningkatkan posisi tawar (bargaining power) Indonesia di forum internasional seperti G77 maupun kerja sama Selatan-Selatan,” ungkap Syahrir.

Tiga Poin Strategis untuk Masa Depan

Melihat tingginya antusiasme masyarakat mengunjungi Museum KAA menjelang puncak peringatan pada 18-24 April 2026, Syahrir yang juga legislator dari daerah pemilihan Jawa Barat IX ini menekankan tiga poin strategis bagi pemerintah dan masyarakat:

1. Internalisasi Sejarah: Nilai Dasasila Bandung wajib masuk dalam kurikulum pendidikan agar karakter bangsa tidak luntur oleh arus globalisasi.

2. Jabar sebagai Pusat Perdamaian: Jawa Barat, khususnya Bandung sebagai “Rahim KAA”, harus tetap menjadi simbol toleransi dunia sesuai poin ke-9 Dasasila Bandung.

3. Kemandirian Pertahanan: Memperkuat sistem pertahanan nasional secara mandiri sesuai dengan mandat Piagam PBB.

Menutup pernyataannya, H. Syahrir mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan peringatan ke-71 ini sebagai pemantik kohesi sosial di dalam negeri.

“Hanya dengan bangsa yang solid, Indonesia dapat menjadi solusi bagi konflik global dan tetap tegak berdiri di tengah pusaran geopolitik internasional. Dari Bandung untuk dunia, mari kita hidupkan terus semangat Dasasila,” pungkasnya.

Peringatan KAA tahun ini diprediksi akan menyedot perhatian dunia internasional, mengingat peran penting Indonesia yang kian strategis dalam memimpin suara negara-negara berkembang di panggung global. (bda)