Camera Branding dalam Membangun Literasi Pembelajaran di Sespim Lemdiklat Polri

BANDUNGASIA.co : Oleh: Irjen Pol Prof. Chrysnanda Dwilaksana

“Camera adalah ruang bergerak yang menangkap aura manusia membentuk peradaban. Aura membentuk masa depan sebuah bangsa dan menentukan apakah aktor-aktor yang dihidupkan di depan televisi, dapat terus dicintai, bertahan, tumbuh atau mati.”
— Prof. Reinald Kasali

Kutipan dari Prof. Reinald Kasali ini mengingatkan kita semua bahwa di era digital, televisi (kamera) merupakan media yang dapat menghidupkan atau bahkan mematikan sesuatu. Bagi Polisi, camera branding dapat dimanfaatkan sebagai ruang literasi, untuk mengedukasi, mempromosikan, menginspirasi warga masyarakat, dan pemangku kepentingan lainya, untuk peka dan peduli akan kemanusaiaan, keamanan dan rasa aman di lingkungannya, bahkan dalam membangun peradaban. Camera branding juga dapat untuk memperkenalkan sosok polisi dan pemolisiannya. Yang bukan sebatas apa dan bagaimana melainkan juga membangun siapa.

Camera branding merupakan ajang kreativitas dan inovasi polisi untuk membangun image atau citra dan jejaring kemitraan. Di satu sisi, masyarakat membutuhkan, informasi, solusi dan respon, bahkan inspirasi dari kepolisian. Di sisi lainnya, polisi juga membutuhkan informasi, komunikasi, dukungan dan peran serta masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya, untuk mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial.

Melalui camera branding, polisi dapat membuat jarak yang sangat dekat sehingga mampu bereaksi dengan cepat, saling bertukar informasi, komunikasi, edukasi, koordinasi, dan berbagai program yang sinergi.

Polisi memiliki banyak model yang bisa di-branding sebagai ikon melalui camera untuk mentransformasikan berbagai efek: (1) mengabarkan hal yang baru; (2). mendorong orang lain berbuat baik; (3) menginspirasi; (4) memberdayakan; (5) menghibur; dan (6) membuat counter issue

Camera branding dapat membantu polisi melakukan perubahan yang membawa manfaat bagi banyak orang. Bagi polisi, perubahan yang dilakukan adalah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Penampilan di camera dapat berdampak personal dan sosial yang influence (mempengaruhi) bagi strategi pencegahan, penanganan saat kejadian, maupun pasca kejadian.
Camera (televisi), sadar atau tidak sadar, telah merubah perilaku dan pola hidup atau kehidupan banyak orang. Dewasa ini, sudah berkembang internet dan sosial media (sosmed) dimana kita bisa membaca berbagai komentar dengan kalimat pedas.

Oleh karena itu, selain untuk masyarakat dan eksternal kepolisian, camera branding juga dapat digunakan untuk kepentingan internal kepolisian: (1) seleksi calon-calon kepolisian, pemimpin kepolisian pada posisi-posisi strategis; (2) membangun ikon-ikon bagi petugas-petugas polisi yang profesional, cerdas, bermoral, dan modern; (3) menunjukkan transparansi dan akuntabilitas kepada publik.

Melalui camera dapat dibangun auragenic: apa yang dirasakan menyenangkan oleh pemirsa, membuat tenang atau sebaliknya, tentang sesuatu yang diihat di layar kaca. Dengan memberdayakan camera dan memunculkan auragenic, polisi dapat menampilkan karakternya (kompetensi, komitmen, dan keunggulannya), profesionalisme, modernitas, transparansi, dan akuntabilitas yang dapat meningkatkan atau memperbaiki citranya. Semuanya itu merupakan bagian dari membangun kepercayaan dan kemitraan dalam mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial.

Sespim Lemdiklat Polri proses pembelajarannya bukan sekedar apa dan bagaimana melainkan menjadikan siapa. Jack Ma mengatakan : kalau kamu belum kaya dan terkenal kata kata mutiaramu bagaikan kentut. Ketika kamu kaya dan terkenal kentutmu menginspirasi.

Dari kata kata Jack Ma menunjukkan menjadi siapa lebih penting daripada sekedar apa dan bagaimana. Mungkin kita berdebat apa saja bisa kita lakukan yang penting kemanfaatanya bagi diri kita maupun sesama. Benar itu tidak salah tatkala sebatas bisa bertahan hidup. Namun tatkala akan menjadi legenda dan karyanya dikenang sepanjang masa mungkin benar juga kata kata Jack Ma. Yang menjadi pertanyaan besar bagi kita semua bagaimana menjadi siapa? Menurut saya memang tidak ada rumusnya bahkan tidam ada kursus atau bahkan sekolahnya sekalipun.

Bisa saja menjadi siapa ini mungkin saja berkat atau given atau gawan bayi yang sudah menjadi takdirnya  bawaan orok. Apakah mereka santai santai saja dan semuanya turun dari langit? Tentu saja tidak. Semua itu adalah proses kerja keras dan kerja cerdas melalui perjuangan dan doa bahkan merekapun yang telah menjadi legenda melalui proses panjang dan keras. Menjadi siapa, bukan sekedar cita cita atau puncak pencapaian melainkan penghayatan dan ketekunan dengan segala resiko dan konsekuensinya menjalankan panggilan hidupnya.

Perjuangan tentu sarat resiko, penuh dengan kemungkinan gagal bahkan menjadi korban di tengah jalan. Menjadi siapa bukan sebatas menapakki anak tangga melainkan ada suatu panggilan yang dengan sadar bahwa dirinya ada tugas tanggung jawab yang harus diembannya. Kalau dilihat apa yang dilakukannya akan nampak melampaui di atas rata rata, yang membutuhkan tekad bulat,  perjuangan pengorbahnan darah dan air mata. Jalanan terjal panal menanjak licin berliku tentu tidak mudah. Di situlah ketekunan konsistensi kemauan keras ketulus iklasan bahkan berani menunjukkan suatu keyakinan penuh harapan.

Menjadi siapa ini bagian orang yang telah selesai dengan dirinya tidak lagi egois dan mampu melebur dalam kepekaan kepedulian bahkan bela rasa kepada sesamanya. Ini bagian patriotisme bukan sekedar mencari panggung atau cari untung sendiri. Ia bukan karbitan. Bukan produk kroni atau klik.

Tentu juga bukan golongan pemuja kekuasaan pangkat jabatan dsb. Menjadi dikenal atau terkenal karena karyanya proses perjuangannya ketahanan dan ketekunannya keberaniannya berkorban. Mereka merupakan patriot pejuang dengan jiwa besar di dalam berjuang mengatakan : badanku dapat kamu belenggu dan dapat dihancurkan namun jiwaku pemikiranku tetap merdeka.  Tan Malaka mengatakan : ” Suaraku akan lebih lantang dibanding saat saya masih hidup”. Benar kata Jack Ma kata kata mutiara dari siapa, menggelora bahkan membakar jiwa semangat dan menginspirasi di mana mana. Wiji thukul menulis dlm puisinya :” hanya satu kata LAWAN ! “. Iwan fals dalam lagunya BONGKAR bisa menggerakkan banyak jiwa. Pidato Bung Karno yang berapi api, menggelora sebagai Pemimpin Besar Revolusi, Penyambung Lidah Rakyat. Banyak contoh darinorang orang terkenal mampu menjadikan dirinya siapa, yang menjadi patriot bangsa. Sultan Agung dengan gelar : SENOPATI ING ALOGO SAYIDIN PANOTO GOMO KHALIFATULLOH. Dan msih banyak lainnya lagi.

Apa yang dinyatakan para pelopor para pemikir seniman politikus menunjukkan betapa gigihnya bukan sekedar cari kemudahan kenikmatan semu. Melainkan mampu menjadi inspirator role model. Perjuangan bukan pamrih keduniawian. Proses panjang tentu ada pengorbanan ada manfaat bagi hidup dan kehidupan dan tentu perjuangan bukan karbitan.

Seandainyapun direkayasa semua akan semu tdk ada kenangan karena penuh tidu daya dan kepura puraan. Menjadi siapa itu spirit bagi jiwa yang tulus iklas tidak larut mabuk puja puji atau kenikmatan tipu sana tipu sini tentu bukan dibeli atau sebatas demi uang yang menghalalkan segala cara.

Menjadi “Siapa” sebagai Pemimpin dan guru bangsa.

Kita melihat banyak keteladanan dari para bapa bangsa yang berani menjadi ikon panutan bagi berdaulatnya bangsa dan negara. Bagi perjuangan  memerdekakan  demi adil makmur sejahteranya jehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka berani nggetih atau berani melaksanakan komitmennya. Hingga dirinya bahkan keluaga dan kehidupanyappun berani dikorbankan. Jasanya budi baiknya menjadi kusuma bangsa. Menjadi pahlawan yang menjadi guru bangsa.

Siapa yang berkorban? Beliau beliau ini langsung berdiri paling depan ” saya “. Para guru bangsa bukan kaleng kaleng bukan sekedar ada dalam kertas namun rela berkorban dan menjadi dasar bahkan pilar bagi bangsanya. Kecintaan dan kebanggaanya sebagai anak bangsa tidak diragukan. Beliau sadar bahwa apa yg dilakukan beresiko berat namun itulah jalan hidupnya menjadi panggilannya.

Menjadi siapa ini yang perlu dibangun karena setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Keinginan mewarisi spirit menjaga menumbuhkembangkan kedaulatan daya tahan daya tangkal dan daya saing bangsa.

Bangsa yang besar menghormati para pahlawannya, para guru bangsanya para perintis dan pejuang pejuang kemanusiaan. Spirit senopati ing ngalogo berani nggetih ini yang hampir menguap. Mostly yang kita lihat hanyalah kepentingan safety player bahkan orientansinya keduniawian. Menjadi siapa merupakan passion dan mungkin bawaan orok. Namun semestinya juga disiapkan dan memikirkan tumbuh berkembangnya kaum kaum alkemis.

Guru bangsa di era milenial di masa new normal adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Berani menunjukkan karakternya sebagai panutan dalam mengcounter atas hoax dan strategi proxy yang menggunakan aprimordial demi kepentinganya. Berani melawan premanisme baik yang ada dalam birokrasi maupun yang ada di dalam kehidupan sosial.

Menjadi Pemimpin itu manat. Amanat dapat dimaknai sebagai tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan. Di dalam Undang Undangpun memberikan amanat untuk para petugas yang memegang: jabatan, kewenangan dan kekuasaan.

Apa yang dipercayakan menunjukan milik si pemberi kepercayaan. Jabatan, kekuasaan, kewenangan itu titipan. Itu milik rakyat. Bagaimana tatkala amanat tersebut dijadikan pasar, diperjual belikan, secara sewenang wenang. Bagaimana rasa sang pemilik amanat tadi. Tentu saja kecewa, marah, malu. Pada puncaknya akan mengambil kembali amanat itu dengan cara mereka sendiri. Entah dengan turun ke jalan, merusak, melawan, main hakim sendiri, dsb.

Kepercayaan  seringkali manis diucapkan. Namun lagi lagi tatkala amanat dari rakyat dijadikan jual beli atas jabatan, kewenangan, kekuasaanyapun juga merupakan titipan. Maka tatkala menggunakannyapun akan berupaya mengembalikan modal. Siapa yang dihajarnya? Sudah pasti rakyat sang pemilik amanat tadi. Apa yg dilakukan?

Bagaimana mencari dan mendapatkan dan melanggengkan jabatan, kekuasaan dan kewenangan. Munculah grup, klik, kroni sampai dengan kerajaan atau kekaisaran. Semakin besar, akan semakin mengakar menguasai. Analoginya bagai seekor naga yang kuat luarbiasa, bisa di darat, di laut, di udara bahkan memiliki semburan api. Jangankan melawan, ngrasani saja bisa mati. Siapa saja yang berseberangan atau dianggap membahayakan akan dimatikan karier bahkan hidup dan kehidupannya.

Naga akan memelihara anak anak naga. Orang jahat tidak tahan dengan orang baik. Mereka gerah dengan perubahan. Mati matian mempertahankan status quo. Mereka takut kehilangan previledge nya. Kekuatan mereka dibangun dengan gaya mafia ” wani piro”. Loyalitasnyapun akan dinilai dari kerelaannya berkorban dan dikorbankan. Jabatan, kekuasaan, kewenangan yang berdampak pada sumber daya besar akan dianggap jabatan basah, jabatan strategis. Sudah pasti dikuasai mereka dan hanya kaum yang direstui mereka yang bisa bertahta di sana.

Dalam menentukan jabatan, kekuasaanpun ada bargaining, tidak hanya uang tetapi juga politis yang mungkin saja dari luar. Munculah titipan. Dari titipan politik sampai titipan vendor semua bisa terjadi. Bahkan mafiapun bisa tahu sepak terjang kebijakan yang ada di internal.

Tatkala amanat sudah disalahgunakan melampaui batasnya maka rakyat bahkan Tuhan akan marah. Memberi tanda bahwa kuasa sudah jumawa maka akan berdampak pada petaka. Kerakusan membutakan, dan kejumawaan merasa paling segalanya. Sadar, kembali kepada keutamaan memang tak mudah. Bukan sebatas perintah, marah, atau mengancam. Tetapi juga keteladanan. Serigala tidak akan mampu diteladani para domba. Serigala dijadikan gembala maka hanya akan menyantap dombanya. Tidak akan mencari domba yang hilang. Maka akan terus berkelit dengan pembenaran pembenarannya.

Polisi dalam mengimplementasikan keutamaan pemolisiannya. Landasannya bekerja dengan tulus bereaksi dengan cepat. Pemolisian merupakan cara utuk mencapai tujuan yang menunjukan inisiatif anti korupsi dan reformasi birokrasi.

Kesemuanya itu dapat dipertanggungjawabkan secara :  moral,  hukum, administrasi,  fungsional maupun  sosial. Amanat pemimpin dalam kepemimpinannya  akuntabilitasnya sebagai profesi setidaknya mencakup:

1. Moral ( niat baik dan benar )
2. Hukum ( secara Hukum benar / tidak melanggar )
3. Adminsitrasi ( secara Administrasi benar / tidak melanggar )
4. Fungsional ( sesuai SOP )
5. Berdampak penguatan institusi
6. Menunjukan Inisiatif Anti Korupsi
7. Memberikan pelayanan kepada publik secara prima
8. Visioner, proaktif dan problem solving
9. Dinamis dan dialogis
10. Secara sosial menunjukan kemanfaatan bagi kehidupan masyarakat

Di era digital camera branding dapat menjadi suatu landasan passion para pemimpin polisi dalam pemolisiannya yang mampu menunjukan:

1. Polisi sebagai penjaga kehidupan
2. Polisi sebagai pembangun peradaban
3. Polisi sebagai pejuang kemanusiaan
4. Polisi sebagai penegak hukum dan keadilan
5. Pemokisiannya menunjukkan tingkat dan kuakitas: profesional, cerdas bermoral dan modern yabg dilandasi: kesadaran, tangagung jawab dan disiplin
6. Pemolisiannya smart policing, harmoni dan terintegrasinya conventional policing, electronic policing dan forensic policing
7. Pemolisiannya berbasis pada supremasi hukum
8. Pemolisiannya mampu memberikan jaminan dan perlindungan HAM
9. Pemolisiannya transparan dan akuntabel secara moral, secara hukum, secara administrasi, secara fungsional dan secara sosial
10. Pemolisiannya berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.**

Senja Tegal Parang 050223