BANDUNGASIA.com : “Saya merasa tidak punya waktu lagi, itulah sebabnya saya melukis dengan tangan, bukan dengan kepala seperti Picasso” Affandi.
Ini menunjukan bahwa Affandi seorang pelukis ekspresionis yang dengan spontan menangkap apa yang ia lihat dan demgan segala energi maupun emosinya mentranformasikan di atas kanvas. Energi maupun emosi yang menggelora membuat Affandi merasa tidak punya waktu lagi. Spontan dengan tangannya menyalurkan segala energinya secara langsung dari plelototan tube cat minyak yang ia gunakan.
Affandi tidak memerlukan kuas lagi, karena tangannya menjadi penyalurannya. Kemaestroan seorang Affandi tidak diragukan lagi, karena melalui proses panjang dalam berbagai situasi kehidupan. Affandi menunjukan karakternya sebagai anak bangsa. Gaya ekspresionis spontanitas dengan pelototan menjadi kekuatan jiwa di dalam karyanya.
Pembelajaran seni di sekolah seringkali hanya mengenal nama dan menghafalnya, tanpa ada suatu pemahaman atas karya jiwa dan menemukan jiwa dalam suatu karya.
Memahami Affandi sebagai seorang maestro setidaknya melalui:
1. Mengenal sejarah kehidupan ( biografi ) Affandi. Harapannya, ada inspirasi atau transformasi imajinasi, atau spirit berkesenian dsb.
2. Mempertanyakan mengapa Affandi menjadi maestro. Pengenalan atas pribadi, jiwa, pemikiran, perkataan serta perbuatan Affandi dapat dikategorikan dalam berbagai pendekatan.
3. Melakukan dialog karya dengan indera untuk dapat menemukan frekwensi yang sama sehingga dapat menelusuri lorong lorong dan relung relung jiwa dalam karya.
4. Walaupun spontan dan dengan ekspresi cepat, sejatinya ada tanda tanda yang sarat makna di balik warna warna lukisan Affandi.
5. Mempertanyakan mengapa Affandi mendapat apresiasi dan diakui di dunia.
6. Melihat pola atau obyek yang dilukis Affandi secara on the spot
7. Mahami dan merenungkan dengan lebih mendalam tenang dan tidak terburu buru, untuk menemukan apa karakter Affandi, kekuatan hingga kelemahannya, dsb.
Tidak mudah untuk memahami seni, namun tatkala ada suatu frekwensi sama yang bisa terhubung maka aka dapat melihat berbagai makna dalam karya.
Affandi memiliki keunggulan jiwa di dalam karyanya. Keberanian dalam menorehkan karya yang ditangkap inderanya. Karya ekspresif Affandi merupakan karya kontemplatif. Ibarat gunung berapi saat berkarya itulah letusannya. Sebenarnya sudah cukup lama dsn proses panjang menyimpang magma.
Pemilihan warna warna primer dan warna skunder di harmonikan dalam kanvas secara langsung. Ini sulit untuk diulang. Para peniru Affandi sulit mencontoh alam bawah sadarnya tatkala menorehkan pelototan pelototan cat. Getar jiwa ini yang membedakan dengan pelukis lainnya.
Affandi orang yang bersahaja, pelukis yang rendah hati dan menghargai orang lain, sekalipun pencuri atau pemalsu karyanya. Humanisme Affandi tercermin dalam gaya hidup dan karya karyanya.
Menikmati kehidupan untuk menangkap jiwa yang akan diekspresikannya. Misalnya ganti baju dan sarungnya di tempat di mana akan melukis. Membersihkan diri dengan disemprot air dengan selang. Ngobrol sana sini dengan berbagai kalangan masyarakat.
Affandi tatkala ditanya akan karya karyanya akan menjawab diluar dugaan si penanya, tetap dengan gaya rendah hati. Affandi menjadi inspirasi banyak orang dan mampu mengangkat harkat martabat bangsanya melalui karya karyanya yang mendunia.**
Oleh: Chrysnanda Dwilaksana
Tegal Parang 060223