Trubus Sudarsono di Mata Saya

BANDUNGASIA.com : Seni dan politik saling terkait erat dalam membangun peradaban bangsa. Namun dampak politik bisa menafikan seni dan humanisme. Tidak ada yang tahu di mana dan bagaimana akhir hidup Trubus Sudarsono. Ia dianggap hilang paska G 30 S PKI.

Trubus Sudarsono pelukis murid S Sudjojono, mampu berkarya dalam gaya realis ekspresif. Nampak kuat garis warna dalam karya karyanya. Tema tema karyanya berkaitan dengan humanisme. Hidup dan kehidupan sehari hari. Trubus juga banyak melukis penari dengan ekspresi tarian yang ia lukiskan.

Warna dan goresan kuasnya kuat, pencahayaan dan anatomi yang harmoni. Trubus tidak terpengaruh gurunya, ia tekun dan dengan mantap menunjukan jati dirinya sebagai pelukis. Kekuatan realis ekspresif inilah yang membuat Trubus diperhitungkan dalam kancah seni rupa di Indonesia. Karya karyanya menunjukan semangat keIndonesiaannya. Di masa perjuangan para seniman berperan aktif dalam menggelorakan kemerdekaan. Bangsa yang berdaulat pilar peradabannya ada pada seni budaya.

Trubus menemukan gaya yang khas Trubus Sudarsono. Bung Karno memahami betul membangun karakter bangsa melalui seni budaya. Peradaban menjadi tanda kedaulatan, daya tahan, daya tangkal dan daya saing bangsa.

Trubus bergabung di Lekra di bawah binaan PKI. Ini mungkin yang menjadikan Trubus dilabel pendukung PKI. Walau singkat hidupnya, entah di mana rimbanya, namun karya karya tetap menjadi catatan sejarah. Trubus dalam bahasa Indonesia dapat dimaknai bersemi ada tunas tunas tanda kehidupan. Karya karya Trubus terus hidup bersemi walau dirinya sudah tiada lagi. Semangat berkesenian Trubus Sudarsono terus ada setidaknya dapat dipelajari dari karya karyanya.

Urip mung mampir ngombe, hidup memang singkat, dengan karya akan selalu ada tanda hidup dan kehidupan yang menjadi tanda. Kekuatan karya terus menggelora. Apa yang dirintis menjadi tanda keabadian. Membangkitkan semangat berkesenian akan mengikuti perubahan dan perkembangan jaman.

Tak selalu mulus dan lancar perjuangan para seniman. Banyakbseniman yang tragis dan nggetih semasa hidupnya. Seperti Van Gogh, Paul Gauhuin, Frida Kahlo, Nashar, dan banyak lainnya. Karya membuat keabadian yang tak kunjung padam walau dirinya telah tiada.

Chairil Anwar dalam puisinya menuliskan: …..aku ingin hidupnseribu tahun lagi …. Tan Malaka mengatakan teriakanku di dalam kubur akan lebih lantang dibandingkanbsemasa hidupnya.  Trubus Sudarsono telah membuktikan, ia dikenal, dikenang dan dipelajari dari karya karyanya. Ars longa vita brevis, hidup itu pendek seni itu abadi. (Chrysnanda Dwilaksana)

Balai Budaya Mampang 060223